Mampus Ditelan Algoritma: Menguliti Jiwa-Jiwa Pengemis Likes yang Sakit Jiwa demi Dianggap Ada
Panduan Menjaga Kewarasan di Tengah Gerombolan Manusia Haus Panggung
Selamat datang di warung kopi kehidupan abad ke-21. Sebuah tempat di mana aroma kopi sering kali kalah menyengat dibanding aroma kepalsuan, dan asap rokok kalah pekat dibanding kabut ilusi yang kita bangun di media sosial. Kita hidup di zaman yang aneh, Sobat. Sebuah era di mana setiap orang merasa wajib memegang mikrofon dan berteriak di atas panggung, sementara kursi penonton dibiarkan kosong melongpong karena semua orang menolak untuk sekadar duduk dan mendengarkan. Melalui tulisan bagian pertama ini, saya ingin mengajak Sobat semua untuk sedikit bergeser ke pinggir panggung. Kita akan menertawakan diri kita sendiri, membedah penyakit haus pengakuan yang sedang mewabah, dan melihat bagaimana kita perlahan-lahan menukar kedamaian batin dengan angka-angka digital yang fana. Tarik napas dalam-dalam, mari kita mulai obrolan ini tanpa perlu bersiap-siap untuk menekan tombol share.
Selamat datang di abad ke-21, sebuah zaman di mana "Eksistensi" sudah sederajat dengan rukun iman dan "Validasi" adalah syarat mutlak untuk hidup. Hari ini, kalau Sobat makan soto babat tapi lupa memotret dan mengunggahnya ke media sosial, soto tersebut dianggap tidak sah secara hukum metabolisme. Soto itu dianggap tidak pernah ada alias khayalan semata. Kalau Sobat berbuat baik tapi tidak ada yang memberikan jempol digital, rasanya seperti sedang mengunyah empedu yang dicampur cuka. Pahit, sesak, dan terasa sia-sia. Kita semua sedang terjebak dalam perlombaan lari tanpa garis finis: berlomba menjadi "Penting". Kita haus validasi dan tepuk tangan, seolah-olah hidup adalah konser tunggal dan kita lapar pujian seakan-akan itu adalah nasi padang gratisan di hari Jumat. Kalau nama kita tidak disebut dalam rapat kantor atau tidak masuk dalam daftar undangan VVIP arisan, kita merasa dunia sedang melakukan konspirasi besar untuk melenyapkan keberadaan kita dari muka bumi.
Tapi, pernahkah Sobat berhenti sejenak — mungkin di sela-sela waktu Sobat sedang sibuk mengedit filter wajah agar terlihat lima tahun lebih muda dan tiga tingkat lebih putih — dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: "Capek nggak sih, jadi orang penting?" Karena kalau belum pernah, mungkin inilah saat yang tepat bagi kita untuk merenung. Duduk sebentar. Lepas dulu earphone-nya. Matikan dulu data selulernya. Dan mari kita bicara — bukan untuk viral, bukan untuk mendongkrak engagement — tapi karena jiwa kita sudah lama mengantre untuk diajak bicara, dan selalu kita suruh tunggu demi membalas komentar orang asing.
Mari kita bicara jujur di depan cermin yang tidak pakai filter: kebanyakan luka batin kita bukan berasal dari kurangnya asupan kalori, tapi dari kurangnya asupan pengakuan. Kita merasa dunia harus tahu setiap tingkah polah kita dari bangun tidur sampai merem lagi. Kita merasa harus selalu hadir di setiap ruang, bersuara di setiap isu yang sedang tren, dan tampil di setiap sudut agar nama kita tidak terkubur oleh algoritma yang kejam. Zaman sekarang, kita dipaksa berteriak sekencang mungkin hanya agar dianggap "ada". Masalahnya, semakin keras kita berteriak di luar, semakin bising dan kacau interior hati kita sendiri. Dan kebisingan itu tidak gratis, Sobat — ia membayar dirinya sendiri dengan mata yang susah tidur, pikiran yang sulit fokus, dan dada yang selalu terasa ada yang mengganjal tanpa bisa dijelaskan kepada dokter spesialis mana pun.
Orang yang terobsesi menjadi penting itu sebenarnya sedang membangun penjara buat dirinya sendiri dengan tangan yang paling terampil: tangannya sendiri. Sobat akan gelisah kalau notifikasinya sepi seperti kuburan di tengah malam. Sobat akan meradang kalau opininya disalip orang lain di kolom komentar. Dan Sobat akan langsung masuk UGD batin kalau merasa disepelekan dalam sebuah obrolan kelompok. Bayangkan betapa lelahnya menjadi si paling penting — Sobat harus selalu benar, selalu sukses, selalu punya jawaban atas segala masalah dunia, dan selalu terlihat bahagia. Bahkan ketika cicilan sedang mencekik leher dan lampu kamar sudah harus dimatikan sebelum jam sembilan malam demi menghemat token listrik yang sudah berbunyi sekarat. Penjara paling canggih di abad ini tidak lagi berjeruji besi atau dijaga oleh sipir bertubuh kekar. Ia berbentuk kolom komentar, angka followers, dan ikon lonceng yang bergetar setiap tiga menit.
Yang membuat kondisi ini lebih menyedihkan adalah bahwa kita tidak pernah benar-benar merasa cukup. Seribu likes terasa kurang karena teman kerja kita dapat dua ribu. Dua ribu terasa kurang karena influencer kemarin sore itu dapat dua juta. Dua juta terasa kurang karena ada selebgram luar negeri yang dapat dua puluh juta. Standarnya selalu bergeser — seperti garis horizon di laut lepas yang tidak pernah bisa dicapai, tidak peduli seberapa keras kita mendayung perahu ke arahnya. Dan kita terus berlari, sampai napas habis dan dada terasa terbakar, sambil berharap bahwa di suatu titik pelarian itu akan membawa kita pada sebuah kepuasan. Spoiler: tidak akan pernah.
Kalau obsesi menjadi penting adalah penyakitnya, maka fenomena flexing adalah gejalanya yang paling kasat mata — dan tentu saja, paling menggelikan untuk diamati dari jarak yang aman sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula. Sobat pasti sering melihat fenomena pamer kemewahan yang makin hari makin tidak masuk akal ini. Ada orang yang menyewa jet pribadi cuma buat foto lima menit, padahal pesawatnya tidak pernah terbang ke mana-mana dan hanya parkir di hanggar. Ada yang pamer tumpukan uang seolah-olah dia adalah pemilik bank, yang ternyata hasil pinjaman dengan bunga yang mungkin lebih tinggi dari ambisi si pemiliknya. Ada yang beli tas mewah seharga sepuluh juta tapi masih patungan beli beras di akhir bulan dengan tetangga sebelah rumah.
Kenapa mereka melakukan itu? Bukan karena mereka jahat, dan bukan pula karena mereka bodoh secara klinis. Mereka melakukannya karena mereka diliputi rasa takut yang luar biasa — takut dianggap tidak penting, takut menjadi transparan di mata dunia, takut bahwa tanpa simbol-simbol status itu, keberadaan mereka tidak akan diakui oleh siapa pun, termasuk oleh diri mereka sendiri saat menatap cermin di kamar mandi yang sepi. Ironisnya, semakin keras seseorang berteriak tentang kemewahan hidupnya, semakin dalam biasanya ia sedang menggali lubang kekosongan di dalam jiwanya yang ia sendiri tidak tahu cara menutupnya. Ini bukan kesimpulan yang kejam, Sobat — ini adalah sebuah observasi yang sangat menyedihkan dari realitas sosial kita.
Ini adalah bentuk satir paling nyata dari kemiskinan jiwa manusia modern. Kita sibuk membungkus diri dengan merek-merek mahal dari ujung kaki hingga ujung kepala agar orang tidak melihat betapa rapuhnya harga diri kita di dalam. Kita menciptakan drama-drama kecil di dunia maya agar terus dibicarakan dan tetap relevan. Kita pamer penderitaan agar dikasihani, atau pamer kesuksesan agar dikagumi — dan dalam kedua kasus itu, yang kita kejar sebenarnya adalah barang yang sama: pengakuan. Bahwa kita ada. Bahwa kita layak dilihat. Padahal, Sobat, orang yang benar-benar berisi biasanya tidak perlu berisik. Emas tidak perlu berteriak ke setiap orang lewat untuk meyakinkan mereka bahwa dia adalah emas. Hanya kaleng kerupuk kosong yang butuh pukulan keras supaya suaranya terdengar sampai ke seberang jalan — dan bahkan kalau sudah terdengar, yang datang hanya orang yang ingin tahu apakah kerupuk di dalamnya masih renyah atau sudah melempem.
Ada paradoks yang lucu dan menyedihkan sekaligus di sini: semakin kita berusaha keras untuk terlihat, semakin kita justru tidak dilihat sebagai diri kita yang sesungguhnya. Yang dilihat orang lain hanyalah kostumnya. Topengnya. Brosurnya. Dan ketika kostum itu harus dilepas — yang mau tidak mau harus terjadi suatu saat nanti ketika malam tiba dan lampu panggung dipadamkan — yang tersisa adalah seseorang yang kesepian. Seseorang yang bahkan tidak yakin apakah ia masih mengenal dirinya sendiri tanpa semua aksesoris dan tepuk tangan riuh itu. Dari sinilah muncul sebuah tawaran baru yang terdengar seperti penghinaan bagi kedewasaan kita, tapi sebenarnya adalah sebuah undangan yang sangat tulus: bagaimana kalau kita berhenti sejenak dari semua kegilaan ini dan belajar cara menjadi bukan siapa-siapa?
Namun, melepaskan topeng di tengah kerumunan orang yang sedang karnaval tentu bukan perkara mudah. Ketika semua orang berlomba menaruh dunia di atas pundak mereka, memilih untuk berjalan dengan tangan kosong akan membuat Sobat terlihat seperti orang aneh, atau bahkan dianggap sebagai pecundang yang kalah sebelum bertanding. Pertanyaannya, siapkah kita menghadapi bisikan-bisikan sinis di luar sana ketika kita memutuskan untuk mundur satu langkah dari panggung? Di bagian kedua nanti, kita akan membongkar rahasia bagaimana ketidakpentingan ini justru bertransformasi menjadi sebuah kemewahan spiritual yang paling dicari, serta bagaimana cara menghadapi "Panitia Akhirat-Dunia" yang selalu siap mengadili pilihan hidup kita yang biasa-biasa saja. Bersiaplah, karena perjalanan menemukan kemerdekaan jiwa yang sesungguhnya baru saja dimulai.


Komentar
Posting Komentar